Tampilkan postingan dengan label Waris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waris. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juli 2019

Metode Bagian Waris Bagian III (akhir)


Ditulis oleh Farida Kurniawati, S.H., M.H.Li

      Seperti yang sudah dipaparkan diatas bahwa pembagian waris menurut hukum Islam terkait besarnya bagian masing masing hli waris tidaklah semudah pembagian waris menurut hukum perdata (BW) sebab antara satu dengan yang lain bagianya tidak sama. Pembagian besarnya harta waris dalam kompilasi Islam dapat dibagi sebagaimana berikut:

Metode Pembagian Waris Bagian II


Ditulis oleh Farida Kurniawati, S.H., M.H.Li

      Adapun yang berhak atas harta warisan dari pewaris adalah orang yang mempunyai hubungan darah dengan pewaris dan suami/istri, namun apabila ada perceraian sebelum pewaris meninggal dunia maka suami/istri ini tidak berhak atas warisan peninggalan pewaris. Adapun ahli waris dalam konsep hukum perdata Pasal 854 burgelijk wetboek terbagi menjadi 4 golongan yakni sebagai berikut:

Golongan
Klasifikasi
I
1.      Suami/Istri yang hidup terlama
2.      Anak
3.       Cucu
II
1.      Orang tua
2.      Saudara kandung pewaris
III
1.      Kakek baik dari pihak ibu maupun bapak
2.      Nenek baik dari pihak Ibu maupun bapak
(Satu garis lurus dengan Ibu maupun bapak pewaris)
IV
1.      Paman dan Bibi baik dari pihak bapak maupun Ibu pewaris
2.      Keturunan paman dan bibi sampai derajat ke enam dihitung dari pewaris
3.      Saudara dari kakek dan nenek beserta keturunannya sampai derajat ke enam dihitung dari pewaris

Terdapat golongan I, otomatis Golongan II, III dan IV terhalang atu tidak mendapatkan warisan dari pewaris;      Keempat golongan tersebut diatas adalah siapa saja yang berhak atas harta warisan pewaris, namun perlu diketahui bahwa:
  1. Apabila Golongan I tidak ada, maka turun ke Golongan II sedangkan Golongan III dan IV tidak berhak atas warisan;
  2. Apabila Golongan I dan II tidak ada maka harta warisan akan jatuh ke tangan Golongan III, sedangkan golongan IV tidak mendapat harta warisan;
  3. Apabila tidak ada Golongan I, II dan III harta warisan akan jatuh ke tangan golongan IV.

      Berdasarkan konsep terhalanginya golongan dibawahnya apabila sudah terdapat golongan diatasnya berarti ahli waris adalah orang yang mempunyai hubungan darah kecuali suami/istri. Misalkan Suami (Pewaris) mempunyai Istri namun tidak memiliki anak-anak, maka semua harta warisan Suami sebagai pewaris akan jatuh ke tangan Istri sebagai ahli waris yang sah, namun apabila sebelum meninggal dunia suami dan istri ini sudah bercerai maka istri tidak akan mendapatkan warisan sama sekali dari suami (pewaris).
      Besarnya harta warisan yang didapat para ahi waris, Burgelijk wetboek mengemukakan mengenai besaran ahli waris laki-laki dengan ahli waris perempuan, memiliki bagian sama antara anak laki-laki dengan anak perempuan sesuai dengan ketentuan Pasal 852 ayat (1) KUHPerdata yang menjelaskan sebagai berikut:
“Anak-anak atau sekalian keturunan mereka, biar dilahirkan dari lain-lain perkawinan sekali pun, mewaris dari kedua orang tua, kakek, nenek, atau semua keluarga sedarah mereka selanjutnya dalam garis lurus ke atas, dengan tiada perbedaan antara laki atau perempuan dan tiada perbedaan berdasarkan kelahiran lebih dulu.”
      Sehingga pembagian konsep waris melalui mekanisme Hukum perdata lebih mudah dan gampang karena pembagiannya adalah sama rata antara satu dengan yang lain dengan konsep pembagian waris melalui hukum Islam adalah untuk warga negara Indonesia yang beragama muslim dan menundukkan diri kepada hukum Islam. Ahli waris dalam hukum Islam diatur dalam Pasal 174 Kompilasi Hukum Islam yakni:


Golongan
Klasifikasi
Hubungan darah
Laki-laki
1.      ayah
2.      anak laki-laki
3.      saudara laki-laki
4.      paman
5.      kakek
Perempuan
1.      ibu
2.      anak perempuan
3.      saudara perempuan
4.      nenek
Hubungan Perkawinan
Janda atau Duda



#Warisan #Waris #HartaWaris #AhliWaris #Pewaris

Metode Pembagian Waris Bagian I


Ditulis oleh Farida Kurniawati, S.H., M.H.Li
Bagian I

      Indonesia adalah negara yang sangat majemuk, mulai dari suku budaya, adat dan agama. Kemajemukan itulah yang menjadikan Indonesia kaya akan peraturan. Dalam hal ini adalah peraturan terkait dengan hukum keluarga khususnya waris. Indonesia adalah negara Islam terbesar di Asia hal tersebut berarti sebagian besar penduduk Indonesia adalah beragama Islam, tentu kebutuhan besar tersebut harus diback-up oleh Pemerintah sedangkan penduduk yang beragama non-muslim juga harus tetap diback-up pula agar menjaga keseimbangan sistem yang adil dan merata.
      Waris sendiri terbagi dalam dua konsep hukum, yakni waris dalm waris perdata produk belanda (Burgelijk wetbook) dan waris Islam produk Kompilasi hukum Islam. Penggugaan dua konsep hukum tersebut diaplikasikan untuk dua penduduk muslim dan non-muslim, dimana penduduk yang beragama muslim menggunakan konsep hukum waris islam sedangkan konsep hukum produk belanda digunakan oleh penduduk non-muslim.
      Perbedaan konsep tersebut ada pada siapa yang berhak disebut ahli waris  dan besarnya bagian yang diterima oleh masing-masing ahli waris. Dalam pembagian waris melalui konsep hukum Islam lebih rumit dan lebih pasti karena bersumber pada al-qur’an sebagai pegangan hidup penduduk yang beragama muslim, sedangkan pembagian menurut konsep perdata produk belanda lebih sederhana dan sumbernya dari atuan perundang-undangan yang dapat setiap waktu diganti melalui prosedur di badan legislatif.